Jumat, 14 April 2017

PUISI : MALU AKU JADI ORANG INDONESIA - TAUFIK ISMAIL

Malu Aku Jadi Orang Indonesia
(Puisi Karya Taufik Ismail)


Di negeriku yang didirikan pejuang religius
Kini dikuasai pejabat rakus
Kejahatan bukan kelas maling sawit melainkan permainan lahan duit
Di negeriku yang dulu agamis
Sekarang bercampur liberalis sedikit komunis
Ulama ulama diancam karena tak punya pistol
Yang mengancam tinggal dor
Hukum hukum keadilan tergadai kepentingan politis
Akidah akidah tergadai materialistis
Aku hidup di negara mayoritas beragama Islam
Tapi kami tersudut dan terancam
Telah habis sabarku
Telah habis sabar kami
Pada presiden yang tak solutif
Pada dewan dan majelis yang tak bermufakat
Pada semua bullshit yang menggema saat pemilu
Pada nafsu yang didukung asing dan aseng
Rakyat kelas teri tak berdosa pun digoreng
Kusaksikan keindahan negara yang menegakkan khilafah
Diceritakan hidup mereka sejahtera
Lalu ditanyai dari mana asalku
Kusembunyikan muka
Tak kujawab aku dari Indonesia
Negara yang kini tumbuh benih islamophobia.

* * *

Jumat, 08 Januari 2016

INILAH 12 PENYAIR LEGENDARIS YANG PALING TERKENAL DI INDONESIA

Berikut inilah 12 Penyair Penulis Puisi Terkenal Indonesia menurut versi blog Mata-sastra yang karya karyanya bisa kita apresiasi dan nikmati hingga sekarang. Ke 12 penyair tersebut adalah :


1. chairil Anwar

Penyair Chairil Anwar



2. H.B. Jassin

Penyair H.B. Jassin


3. Asrul Sani

Penyair-Asrul Sani


4. Sitor Situmorang







5. Sutardji Calzoum Bachri


Penyair Sutardji Calzom Bachri


6. Abdul Hadi Wiji Muthari


Penyair Abdul Hadi WM



7. Taufiq Ismail




8. W.S. Rendra

Penyair W.S. Rendra


9. Sapardi Djoko Damono


Penyair Sapardi Djoko Damono


10. Mustofa Bisri


Penyair Mustofa Bisri

11. Ajip Rosidi

Penyair Ajib Rosidi



12. Muhammad Ainun Nadjib


Penyair M.H Ainun Nadjib

Jumat, 08 Mei 2015

SAJAK LIMA MENIT 2

Rindu sendiri dari rumpun perdu
semilir angin membelai dagu
kucup bunga telah mekar pagi ini
membuat aku ingin menari

sepi-sepi yang dirasakan gunung
menusuk sukma digua-gua kering
sangat sulit untuk dijamah perawan cinta
karena aku terlalu lemah dalam dilema.

Banjarmasin, medio gerimis Mei 2015

Minggu, 03 Mei 2015

BIODATA, PROFIL DAN KONTAK PENULIS

Nama : Alin M. Solihin / Akhmad Solihin
Tempat Tanggal Lahir : 3 Januari 1974
Alamat : Jl. HKSN Komplek AMD Permai Blog B7 No 189 Banjarmasin Kalimantan Selatan

Prestasi dan Aktivitas:








AKU BERBISIK PADA LANGIT

AKU BERBISIK PADA LANGIT
Karya: Akhmad Solihin


Aku berbisik pada langit ketika malam ini telah berjegala
Mengingatkan aku tentang makna hidup penuh dosa
Dengan tujuh langkah dari tujuh udara ku panjatkan do’a
Bagi kekasih hati yang tak bisa kutahan kepergiannya.

Untuk sang cinta…

Untuk kasih sayang ku yang tak akan habis dikikis waktu.
......................................

Banjarmasin, 20 januari 2012.


Sabtu, 02 Mei 2015

SAJAK LIMA MENIT 1

Aku tulis sajak-sajak ini
dalam lima menit saja
menemani galau hati malam ini
hingga nyeri tidak lagi terasa
ini puisi
yang jelas bukan hasil korupsi.

Banjarmasin, 2 Mei 2015

PUISI: BILA MALAM LUPA SUARA PENJAGANYA

BILA MALAM LUPA SUARA PENJAGANYA
Karya : Akhmad Solihin

Bila malam lupa suara penjaganya
Dia bertanya :
"Kenapa kau berjalan dalam gelap"

"Aku yang menjagamu dari maling ayam
subuh nanti" jawab sang suara.

Lalu tak ada ku dengar suara apapun detik ini

Kunang-kunang beterbangan bersama ribuan cahaya
malam tersenyum manis dengan bulan, bintang gemerlapan
terlihat manusia dengan sisi kebaikannya
yang tidur dengan kepercayaan sepenuhnya
diam dalam diam yang sesungguhnya

Tapi, tiba-tiba malam berteriak
"Tolong...ada maling... tolong..."

"Diam! itu teman-temanku" bentak suara itu.

Lalu tak ada lagi kudengar suara apapun detik ini.

Kunang-kunang beterbangan mati cahaya
bulan jatuh
bintang jatuh
melebur suara yang memanggil pagi
hidup dalam kedinginan yang sesungguhnya

Akhirnya malam jadi pilu
tertunduk mencari-cari jiwa yang menjaganya
tapi semua hanya bisu halimun
subuh ini sudah tidak terdengar kokok ayam 
malam diam
ayam diam
gemuruh redam dalam diam. 


Banjarmasin, 30 Nopember 1993

Puisi, sajak, karya solihin, puisi tahun 1994
Puisi Diterbitkan  di Pojok Lengking Koran
Banjarmasin Post, Minggu 30 Januari 1994


Jumat, 03 April 2015

BELAJAR MENULIS SASTRA

A B C, C B A, Biarlah bayi ini berkata aksara
bersama waktu yang dititi tautan dunia
Aku pilih cinta karena ia bermakna
memecah kesunyian dalam hidup di dunia.

Selasa, 13 Januari 2015

PUISI : CINTAKU JAUH DI PULAU - CHAIRIL ANWAR

Cintaku Jauh di Pulau
Karya Chairil Anwar




Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri



Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.



Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"



Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!



Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946.

Selasa, 06 Januari 2015

PUISI : SAJAK PUTIH - CHAIRIL ANWAR

Sajak Putih
Karya Chairil Anwar


 

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda



Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku



Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…


*1944*

Sabtu, 03 Januari 2015

PUISI: MAJU - CHAIRIL ANWAR

MAJU
Karya Chairil Anwar


Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

Maju

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

                                                    Februari 1943

Jumat, 02 Januari 2015

PUISI : AKU - CHAIRIL ANWAR

Chairil Anwar, binatang Jalang, puisi;
AKU
Karya: Chairil Anwar

 

Kalau sampai waktuku
ku mau tak seorang kan merayu
tidak juga kau

tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang....

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

* * *

Kamis, 01 Januari 2015

PUISI : DERAI DERAI CEMARA - CHAIRIL ANWAR

Chairil Anwar
Derai-Derai Cemara
Karya Chairil Anwar


Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah.

                                              1949

Sabtu, 31 Mei 2014

PUISI : HARAPAN

HARAPAN
Puisi oleh: Akhmad Solihin


Adakah pagi yang tanpa mentari
adakah purnama yang tanpa rembulan
adakah lautan yang tanpa ikan
adakah impian yang tanpa harapan
adakah manusia yang tanpa cinta
adakah jiwa yang tidak berjegala karena derita.


Selalu ada harapan ketika kita lahir
penderitaan pasti ada ujungnya
dan harapan kita pasti menyala dalam
kesepian dan kegelapan malam.


Bersama kobaran api unggun
yang menerangi malam-malam gelap
semangat dan tekat membaja, berkobar
dalam cita-cita yang paling hakiki
memberikan yang tebaik dalam hidup ini.



                                                                Banjarmasin, penghujung  Mei 2014

Kamis, 13 Maret 2014

PEMBAGIAN ANGKATAN SASTRA DI INDONESIA MENURUT URUTAN WAKTU

Susastratulis----Seni sastra sebagai salah satu cabang seni yang membentuk karya dengan seni sastra, di Indonesia secara urutan waktu, sastra terbagi atas beberapa angkatan yaitu :

1. Pujangga Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke 20. Pada masa ini karya sastra di Indonesia didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat kisah.

2. Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870-1942 yang berkembang di lingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah Sumatera lainnya". Cina dan masyarakat Indonesia Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

3. Angkatan Balai Pustaka
Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 - 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama). dan Puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.Balai pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan porno dan liar yang dihasilkan oleh sasta Melayu Rendah yang waktu itu banyak menyoroti kehidupan Pernyai'an (cabul) dan dianggap memiliki msisi politis (liar). Balai pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu Bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahsa Madura.

4. Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap hasil karya sastrawan pada masa itu, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaraan kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elistis menjadi "bapak" sastra modern Indonesia.

Pada masa itu, terbit pula majalah "Poedjangga Baroe" yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane. karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930-1942), dipelopori oleh Sultan Takdir Alisjahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu : 1. Kelompok "Seni Untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah dan; 2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sultan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

5. Angkatan '45
Pengalama hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastra Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik - idealistik.

6. Angkatan 50-an
Angaktan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra kisah asuhan  H.B Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengn cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengna majalah sastra lainnya.

7. Angkatan 66-70
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avat-grade sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd dll. Pada masa angkatan ini di Indonesia Penerbit Pustakan Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya sastra. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini seperti Motinggo Busye, Pernawan Tjondronegoro, Djamil Djoko Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono dan Styagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk H.B. Jassin.

Beberapa sastrawan pada angkatan ini diantara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer. Akhudiat, Darmanto jatman, Arief Budiman, Guenawan Mohamad, Budi Darma,  Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Islamil dan banyak lagi yang lainnya.

8. Dasawarsa 80-an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Majalah Horison mulai hilang, karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.

Beberapa sastrawan yang dapat mewakili Angkatan dekade 80-an ini antara lain adalah : Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Kurniawan Junaidi.

9. Angkatan Reformasi
Seiring pergeseran kekuasaan politik dari tangan Mantan Presiden Soeharto, muncul wacana tentang sastrawan Angkatan Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika, misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku ontologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.

Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatunya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya-karya sastra: puisi, cerpen, dan novel pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutarji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

10 Satrawan angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena memiliki 'juru bicara', Korrie Layun Rampan pada thaun 2002 melempar wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan 2000. Sebuah buku tebal tentang Angakta 20000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseism dan kritikus sestra dimasukan Korrie ke dalam angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, sperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-, seperti Ayu Utami, dan Dorothea Rosa Heliany.

* * *

Rabu, 12 Februari 2014

SASTRA PENGERTIAN DAN MACAM-MACAMNYA

A. Pengertian Karya Sastra

Kata sastra berasal dari bahasa sansekerta yang berarti “tulisan”. Kata itu mendapat awalan su yang bermakna “baik” atau “indah” sehingga menjadi susastra, artinya menjadi “tulisan yang baik” atau “tulisan yang indah”. Selanjutnya, kata susastra mendapatkan konfiks ke-an menjadi kesusastraan. Arti konfiks ke-an adalah “hal”. Jadi, kesusastraan dapat diartikan “tentang tulisan yag indah”.

Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.

Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa.

Dalam kehidupan sehari-hari kata susastra sudah jarang dipakai. Sebagai gantinya, digunakan kata sastra saja. Artinya pun berubah menjadi “karya sastra”, yaitu hasil karangan sastrawan. Jika mendapatkan konfiks ke-an menjadi kesastraan yang artinya “tentan karya sastra” atau “hal-hal yang berkaitan dengan karya sastra”.

Karya sastra dihasilkan oleh seniman, khusushya sastrawan. Seorang sastrawwan berusaha meujudkan karya seni, yaitu sesuatu yang indah yang dapat menyenangkan dirinya maupun orang lain (penikmat). Cara mewujudkannya pun bermacam-macam, tergantung bahan dasarnya. Sebagai contoh, dari bahan dasar kayu diukir menjadi patung, kanvas digambari dengan cat menjadi lukisan, nada-nada suara digubah menjadi lagu, dan bahasa dikarang menjadi karya sastra. Pemahat patung dinamakan pematung, pembuat lukisan dinamakan pelukis, pencipta lagu dinamakan penggubah, dan pengarang karya sastra disebut sastraan.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah karya seni yang mengandung keindahan dan dihasilkan oleh seniman, khususnya sastrawan.

Jadi, yang termasuk dalam kategori Sastra adalah:
  • Novel
  • Cerita/cerpen (tertulis/lisan)
  • Syair
  • Pantun
  • Sandiwara/drama
  • Lukisan/kaligrafi.

B. Macam-macam Karya Sastra
1. Macam-macam Karya Sastra Berdasarkan Bentuknya

Ibarat seorang chef yang bisa memasak daging kambing menjadi sate, gule, atau tongseng, sastrawan pun bisa mengolah bahasa menjadi karya sastra yang bermacam-macam. Karya satra tersebut dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu puisi, prosa, dan drama.

a. Puisi
Puisi adalah karya sastra yang bentuknya terikat oleh berbagai ketentuan. Ketentuan itu menyangkut jumlah kata, bait, larik, rima, dan irama. Contoh puisi yaitu pantun, syair, gurindam, puisi modern.

b. Prosa
Prosa adalah karya sastra yang bebas dari berbagai ketentuan. Tidak ada aturan mengenai jumlah kata, bait, baris/larik, rima, dan irama. Pengarang bebas menggunakan kata-kata dan merakitnya sesuai selera. Contoh prosa yaitu dongeng, hikayat, certita pendek (cerpen), dan novel.

c. Drama
Secara singkat drama dapat diartikan karya sastra cerita yang dipentaskan. Drama dalam karya sastra adalah naskah drama karangan sastrawan. Naskah drama isinya kebanyakan berupa dialog, yaitu percakapan antar tokoh (pelaku). Dari dialog itu dapat diketahui alurnya, watak para tokohnya, dan isi ceritanya. Namun, naskah drama mungkin akan membosankan jika hanya dibaca, karena naskah drama ditulis untuk dipentaskan atu diperagakan di panggung.

2. Macam-macam Karya Sastra Berdasarkan Waktu Pembuatannya
Berdasarkan kurun waktu pembuatannya, karya sastra dapat digolongkna menjadi dua, yaitu sastra lama dan sastra baru.

a. Sastra Lama

Yang termasuk sastra lama yaitu :
Puisi lama: pantun, syair, dan gurindam
Prosa lam: dongen dan hikayat

b. Sastra Baru (Modern)

Yang termasuk sastra modern yaitu:
Puisi modern: semua puisi bebas yang tidak termasuk puisi lama
Prosa modern: cerpen, novel, roman,


Demikian tentang sastra pengertian dan macam-macamnya, semoga bermanfaat.

Sumber:
- Disadur dari Kitab Bahasa Indonesia Karya Asul Wiyanto
- https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra

Sabtu, 08 Februari 2014

SAJAK-SAJAK DAN PROFIL PENYAIR : PURWA ATMADJA

Profil singkat Penyair Purwa Atmadja:

Susastratulis----Nama sebenarnya : Anwar Isnudikarta. Dilahrikan tanggal 10 Maret 1923 di Cibeber, Cianjur. Pendidikan: HIS, Nulo, tamat tahun 1941 di Middelbare Landbowschool, kemudian SPMT (Sekolah Pertanian Menengah Tinggi) di Bogor, tamat 1945. Tahun 1945-1946 menjadi Pemimpin Redaksi surat kabar Barisan Rakyat di Cirebon. 1945 - Juli 1947 sebagai Wakil Kepala Jawatan Penerbangan Keresidenan Cirebon. Oktober 1947 - September 1949 ia ditawan Belanda dan ditempatkan di Internegringskamp LOG Kebowaru Bandung. Pada 1949 - Desember 1950 Menjadi kepala Jawatan penerbangan Keresidenan Cirebon. Sejak Januari 1951 partikulir. Sebelum Agresi I anggota API (Angkatan Pemuda Indonesia), kemudian Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) di Cirebon. Sebebasnya dari tawanan ia memasuki Partai Sosialis Indonesia. Jadi anggota Dewan Partai PSI sekretaris bagian umum, Bandung. 

Purwa Atmadja atau Anwar Isnudikarta, Telah menulis beberapa sajak dan buku, yang paling dikenal antara lain;  Tujuan Berjuang, Penerbit dan Toko Buku "Economi," Bandung 1949.



Berikut sajak-sajak dan Puisi Purwa Atmadja ;


MASA BARU

                                    Kepada Heinrich Heine

Sekali tiba masa ketika,
Dunia mewah gugur merata,
Enyah Seni murni indah 
Tangan kasar akan merobek 
Segala apa nan molek
Akan meremuk mencabik
Semua nan halus cantik.

Dan ....
Sajakku kelak pembungkus kacang, 
Prosa puisiku pembungkus kopi,
Dewi Seni akan menangis.

Namun beta rela,
Datanglah cepat "ketika" itu,
Ketika Jelata akan bertahta,
Akan kuasa,
Dunia adil sama rasa sama rata.

                                                                Cirebon, 17 Desember 1945

Pembaruan, No. 2, Pebruari 1946.


* * *



MENGENANG DAN MENINJAU

Rakyat mengeluh bekerja keras, 
Rakyat menjerit meminta beras,
Rakyat menggigil di sarung karung,
Ekonomi kurat karit, 
Suruh menghemat,
Suruh semangat.
Ah, Bung, manakah Pemimpin
Yang akan mengatur,
Negara Makmur?

Begitu keluh Rakyat Jajahan,
Harap cemas, putus asa,
Hingga gemuntur pekikan sadar:

Bersatu, Kawan, Kaum Terlantar,
Bersatu, Kawan, Kaum Yang Lapar,
Dengan jumlah kita berjuta-juta,
Kita Bersatu, kita membanjir,
Merebut H a k  H i d u p  M e r d e k a,
Membangun Negara ber-D a u l a t  R a k y a t.

Kini merdeka.
Abadi ....... adil ....... dan makmur .......?
Bergantung Rakyat yang mesti mengatur!

                                                                     Cirebon, 17 Desember 1945


Pembaruan, Th. I No. 1 - 2, Januari 1946

* * *



SURAT "TALQIN"

                                                       (Kepada fanatikus buta)


Bila kelak kau dalam kubur
Diverhoor Mungkar wa-Nakir,
Awas, jangan kau mungkir...

Siapa Tuhanmu?
Tuhanmu Benda.
Siapa Rasulmu?
Rasulmu Marx.
Siapa Sahabat Rasulmu?
Engels-Lenin-Stalin.
Apa Kitabmu?
Kitabmu Das Kapital.
Mana Kiblatmu?
Kiblatmu Moskow.
Apa amalmu di dunia?
Amalmu Revolusi Proletar.

Maka naiklah rokhmu ke gerbang syorga,
Di mana skilwak menggeledahmu,
Memeriksa surat pas dan kartu anggota.
Kau perlihatkanlah kartu "Laskar Merahmu".
Skilwak akan berkata
"Bung salah wesel.
Di sini tempat Alim Ulama."

Rokhmu melayang turun ke lubang Neraka,
Di mana skilwak Neraka juga beraksi
"Sayang Bung, di sini tiada tempat bagi Bung,
Khawatir Revolusi dalam Neraka."

Ke Syorga tidak, ke Neraka tidak,
Maka rokhmu akan kembali ke dunia raya,
Di mana kau hidup baqa di alam fana.


                                                                Pertapaan, 13 Pebruari 1948


Dari naskah yang belum terbit: Gelora.


* * *

Kamis, 30 Januari 2014

SAJAK-SAJAK DAN PROFIL PENYAIR : BAHRUM RANGKUTI

Profil singkat Penyair Bahrum Rangkuti:

Bahrum Rangkuti - Dilahirkan tanggal 7 Agustus 1919 di Pulau Tagor, Galang, Sumatera Timur. Pendidikan HBS-B Medan - AMS - Al Yogya, tamat 1939. Faculteit de letteren Jakarta, 1939-1941. Jami'atul Mubashereen, Rabwah, Pakitstan, 1950. Kegemaran: mempelajari agama, filsafat kebudayaan. Karangan-karangan yang telah ditulisnya: Negara Ciptaan Rakyat, Penerbit: Tanjung, 1946; Sinar memancar dan Jabal An Nur, sandiwara radio, dimuat dalam majalah Indonesia Th. I No. 6, Juli 1949; Layla dan Majnun, sandiwara radio, dimuat dalam Gema Th. II No. 5, Mei 1949; Asmara Dahana, sandiwara radio 1949; Islami Iqtisadi ki nizam, dengan nama samaran Basyiruddin Mahmud Ahmad, Neraca Trading Coy, 1949; Pujangga Muhammad Iqbal, Almarco, 1952. Menterjemahkan buku-buku. Lintasan Sejarah Dunia I-II (Glimpses of World History) oleh Jawaharlal Nehru, BP 1950, 1951 ; Pakistan, Angka dan Peristiwa, Kedutaan Pakistan, 1950 ; An Nabi (The Prophet) oleh Gebran Khalil Gebran, Pembangunan, 1949 ; Kasymir oleh Zafrullah Khan, Wijaya 1951. Meninggal 13 Agustus 1977.


Berikut ini sajak-sajak dari Penyair Bahrum Rangkuti :

Do'a Makam  >>  Lihat Baca klik di sini !!

Hampa   >>  Lihat Baca klik di sini !!

Insaf   >>  Lihat Baca klik di sini !!

Mi'Raj   >>  Lihat Baca klik di sini !!

Laut, Perempuan dan Tuhan (Prosa/Cerita)    >>  Lihat di sini !!


* * *

Jumat, 17 Januari 2014

PUISI : MI'RAJ - BAHRUM RANGKUTI

MI'RAJ
Puisi Karya Bahrum Rangkuti


(I)


Malam kelam
lena dalam sunyi
hati meleleh hitam
rapat hening di atas bumi

Atap bilikku membuka
terus pandang kelangit cuaca
bintang gemetar bimbang
memanggil daku mengalam lapang.

lekat badan di bumi
tanah dengan tanah ini
dan jiwa ke luar dari bungkus
diduking kalimah segala kudus.

melambung mengatas dunia
hutan, gunung, awan, angkasa
dan alam lahir
bagai pikiran 'nembusi atir.


(II)

pintu gerbang alam rohani
mengelak buka oleh "salam 'alaikum"-
dari jauh mengembus sepoi bayu pagi
tapi apa ini, sungai Citarum? -

atau khayal fatamorgana
ini dunia penuh rasa
tiada pengawal penunjuk jalan
kemana pergi wahai, badan?

tiba daku di padang menyala
api di sekitar telan menelan
ke mana jua kuarah pandangan
ngeri mananti jurang ternganga.

aduh, dekatku api menjulang marah
kayu apinya: batu dan besi
badan manusia lembab berdarah
tapi 'nentiasa berpantang mati.

tak tahan hatiku ini
tulang sungsum gentar
terkejut, darah henti berlari
melihat ngeri sambar menyambar.

ke mana pergi?
mati tak bisa lagi
badan 'lah tinggal di bumi
manusia berbadan semata rohani.

banyak bentuk insan di sini
di alam Barzach lahir kembali
hidup menurut kemauan Ilahi
makhluk dibawa-Nya ke jalan abadi.

api negara penyembuh rohani
disebutkan "ibu" di Qur'an Suci
mendidik, menghardik, dan memartil
agar lahir insan-ul-kamil


(III)

dalam pikiran meresah gelombang
terus maju ke gurun pasir
lambat laun menghijau padang
berkat bacaan irama dzikir.

lihat, apa itu?
danau, taman mengempas sinar
melintas lembah hijau gemetar
gunung mendaki ke langit biru.
 taman swarga gembira menari
di sinar surya alam rohani
seni suara membelai rasa
mengembus sepoi pelbagai suara

atas bukit dalam jatuhan sinar perlahan
menguap hijau lembah taman sari
dan dari anak sungai, antara pelbagai bungan dan dahan
melambungkan nyanyian mesra kudus murni ......

bersandar daku di rindang firdusi
lena lemah tiada berdaya
do'a dan puji menggetar udara
apakah ini ma'rifat Ilahi?

merasa diri dalam swarga
tapi semua khayal semata
atau ini juga 
belum cukup lama dalam neraka ?


(IV)


Mana kau, mana kau kasih
aku'lah menanti
dalam taman firdusi sari
bagai janjimu dulu.

kau sangka kulupa padamu
sejak kau mengalam rohani
jiwaku kini di bawah pohon
puncaknya mendesau bayu asmara.

Mana engkau adikku sayang
mana engkau?
aku menanti di bawah rindang hijau
bagai katamu dulu.



                                                                                 (V)


Maka kedengaran suara nyanyian
dari jauh samar perlahan
kian lama mengembung nyata
sampai membuai alam semesta

didukung awan putih murni
diapi malaikat bidadari
datang kau di depanku
senyum suka bagai dulu

indah angkatanmu, merah muda
seluruh taman kemilau harum
jiwaku menyala hendak merangkum
tak dapat bergerak, diam pesona .....

padangmu lembut mesra
suaramu nyanyia surga
talapak kakimu juita melangkah
bagai merpati di samar lembah.


                                                                                 (VI)

Dan tiba-tiba suaramu mengalun
kuminum bagai pagi embun
membunga api di senja
dan khayal ini jadi nyata bercaya.

kian mengembung suaramu
menyadi nyala menyanyi
caya berpendar ke segala penjuru
aku serasa didukung sayap bunyi.

Tetapi dengan tiada setahuku
aku tak sadarkan diri lagi.
apakah ini fana dalam Ilahi
seluruh pribadi lebur dalam Rohani?

...............................................................................

Aku siuman. Turun ke bumi nyata
kembali. Malam gelita

Mata mencari ke sekitar
Segala bisu dan samar.

Inilah akhir kudus malam
pulang dari tamasya rohani
dan di langit lengkungan kelam
Kemilau bintang Utari .......

* * *

Kumpulan belum pernah diumumkan.

Diberdayakan oleh Blogger.