Profil singkat Penyair ANAS MA'RUF:
Anas Ma'ruf - Dilahirkan tanggal 27 Oktober 1922 di Bukittinggi. Pendidikan Tamat SMT (1945) di Jakarta. Ikut mendirikan Berita Indonesia Jakarta (1945). Pemimpin Umum majalah Nusantara (1946), redaktur majalah kebudayaan Arena dan majalah Patriot (1946-1947) Yogya. Menjadi anggota Redaksi majalah Indonesia ( 1950-1952) dan sekretaris Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1955 - 1957), disamping menjadi pegawai Balai Pustaka. Di zaman Jepang menterjemahkan: Kabir, Gitanjali dan Citra. Di masa Republik; Sadhana. Semuanya karangan-karangan Rabindranath Tagore. Di samping menterjemahkan cerita-cerita pendek dan sajak-sajak dari berbagai negeri, juga menterjemahkan buku-buku ekonomi. Terjemahan-terjemahan terakhir: Komedi Mansusia, William Saroyan, Mutiara, John Steinbeck. Anas Ma'ruf Meninggal dunia pada tanggal 24 Agustus 1980.
Anas Ma'ruf - Dilahirkan tanggal 27 Oktober 1922 di Bukittinggi. Pendidikan Tamat SMT (1945) di Jakarta. Ikut mendirikan Berita Indonesia Jakarta (1945). Pemimpin Umum majalah Nusantara (1946), redaktur majalah kebudayaan Arena dan majalah Patriot (1946-1947) Yogya. Menjadi anggota Redaksi majalah Indonesia ( 1950-1952) dan sekretaris Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1955 - 1957), disamping menjadi pegawai Balai Pustaka. Di zaman Jepang menterjemahkan: Kabir, Gitanjali dan Citra. Di masa Republik; Sadhana. Semuanya karangan-karangan Rabindranath Tagore. Di samping menterjemahkan cerita-cerita pendek dan sajak-sajak dari berbagai negeri, juga menterjemahkan buku-buku ekonomi. Terjemahan-terjemahan terakhir: Komedi Mansusia, William Saroyan, Mutiara, John Steinbeck. Anas Ma'ruf Meninggal dunia pada tanggal 24 Agustus 1980.
Berikut ini sajak-sajak dari Penyair Anas Ma'ruf yang dapat penulis himpun :
ANAK PEDATI
Di bawah cahaya bulan purnama
Sebaris pedati tampak beriring
Suara gentanya redup bergema
Melalui lembah sunyi berdenging
Bertiup lagu puputan rindu
Lembut mengalun dengung salung
Hanyut sukma dihilirkan lagu
Ikut berayun dengan senandung
Serantih digubah berlarat-larat
Menurut getaran jiwa bercinta
Menanti balasan cinta kasih ;
Pernah kurasa terbangkit hasrat
Mendengar gumbahan cipta rasa
Kurnia simpanan anak pedati.
Panji Pustaka, Th. XXI No. 12, 20 Maret 1943
* * *
KISAH ZAMAN
Desir desau air mengalir
ke pantai mara
tujuan nyata
Dari udik sampai ke hilir
penuh rahasia
sejak semula
Risik risau ombak memecah
di pantai landai
buih berderai
Entah ombak sedang bermadah
mencurah rasa
peraman dada.
Alangkah bahagia o, Tuhan
Jika ku mahir
bahasa air
Hendak kudengar kisah zaman
di bibir pantai
di tepi sungai.
Kebudayaan Timur I, 1943
Sumber:
- H.B. Jassin, 2000, Gema Tanah Air Prosa dan Puisi 1, Balai Pustaka, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar